KARTINI

Nama Kartini atau Raden Ayu Kartini atau Raden Ajeng Kartini, bukanlah nama yang asing di telinga seluruh bangsa Indonesia. Setiap kali mendengar nama tersebut pasti dalam pikiran spontan pada salah seorang  tokoh perjuangan Indonesia pada saat jaman Belanda.

 

 

 

 

 

Walau seluruh bangsa Indonesia juga tahu bahwa Raden Ayu Kartini perjuangannya sebatas wilayah Jawa Tengah dan bukanlah mengangkat senjata, bukan kontak langsung dengan penjajah, seperti Cut Nya’ Dien,  Martha Christina  Tiahahu, Dewi Sartika  dan pejuang wanita yang lain.

Bukan berarti perjuangannya bisa dianggap remeh jika dibandingkan dengan para pejuang  yang lain. Karena segala sesuatu tidak akan “berubah”  jika tidak pernah ada yang memelopori.

Apalagi perjuangan untuk merubah kebiasaan-kebiasaan yang sudah menjadi tradisi atau sesuatu yang sudah membudaya, hal tersebut membutuhkan keberanian , perjuangan nyata, kegigihan,  proses waktu yang tidak sedikit dan membutuhkan langkah-langkah riil.

Berjuang melawan tradisi , adat-istiadat Jawa inilah yang dimaksud dengan “perjuangan Kartini”.  Memang  sangat  eronis ?  Mengapa tidak ?

Karena yang diinginkan Kartini  adalah merubah kebiasaan-kebiasaan  yang sudah menjadi tradisi yang berpusat  dan berlaku di lingkungan keluarga Kartini sendiri juga adat-istiadat yang sudah berlaku di wilayah Jepara saat itu bahkan sudah menjadi tradisi di  Jawa.

Adat-istiadat Jawa yang seperti apa yang  diinginkan Kartini berubah ?

Kartini menginginkan “kaum wanita”  pribumi  :

1.  Mempunyai kebebasan menuntut ilmu dan belajar.

Karena pada saat itu secara umum para wanita pribumi yang ingin sekolah tidak diperbolehkan.

Wanita yang boleh sekolah hanyalah wanita keturunan bangsawan dan hanya sampai pada tingkatan tertentu.

2. Mempunyai hak yang sama dengan hak kaum laki-laki.

Adat pada jaman itu para wanita adalah sebagai orang yang hanya mengerjakan

pekerjaan-pekerjaan dapur.

Maka muncul sebutan wanita saat itu adalah “konco wingking”  (teman yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di rumah bagian belakang).

3. Mempunyai hak otonomi.

Adat saat itu banyak aturan yang diberlakukan bagi para wanita pribumi.

Wanita pribumi tidak boleh membangkang dengan aturan-aturan yang sudah lama berlaku diantaranya para wanita pribumi harus mau menikah dengan laki-laki yang sebelumnya tidak dikenal. Wanita pribumi harus mau menjadi istri laki-laki yang sudah ditentukan, walau laki-laki itu sudah mempunyai istri.

Dengan keaadaan seperti itu Kartini ingin para wanita pribumi dapat menentukan pilihannya sendiri, menentukan apa yang sudah menjadi pilihannya.

Meskipun akhirnya Kartini harus menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang sudah pernah mempunyai 3 (tiga) orang istri.

Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti dengan keinginan Kartini, maka Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks Kantor Kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang sekarang digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Anak pertama sekaligus anak terkhirnya bernama RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904.

Beberapa hari kemudian, tanggal 17 September 1904 Kartini Meninggal pada usia 25 tahun dan dimakamkan di desa Bulu, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Karena kegigihan Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada tahun 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah-daereah lainnya,

Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”.

Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s