Arsip Penulis: cultural66

Tentang cultural66

Pemerhati masalah sosial-budaya dan seni. Pemerhati beladiri pernapasan (member).

Sutejo Ssc Menuntut Keadilan Karena Dicurigai Melakukan Sesuatu Terhadap Kabel Listrik PLN.


PLN, yah PLN, semakin hari semakin membuat rakyat kecil hidup dalam belenggu kesengsaraan dalam membayar tarif dasar listrik. Tidak cukup sampai di sini. PLN semakin semena-mena terhadap pelanggannya. Terbukti, Sutejo Ssc sebagai salah satu pelanggan PLN yang berada di Komplek Perumahan Patihan Kidul, Kecamatan Siman,  Kabupaten Ponorogo, pada hari Selasa, 30 Mei 2017 sekitar pukul 09.00 rumahnya didatangi petugas PLN secara rame-rame. Tak cukup itu saja, petugas PLN pun juga membawa aparat kepolisian yang lengkap membawa senapan laras panjang. Sebenarnya ini mau nangkap apa pak polisi, pak PLN ?

Apakah begitu berbahaya pemilik rumah yang anda datangi pak PLN, hingga membawa pak polisi segala ? Wah waaah ….

Pihak PLN menyatakan bahwa kabel listrik yang berada di atas meteran “BERLUBANG”. Lubang inilah yang menjadi penyebab petugas PLN dan beberapa aparat polisi mendatangi rumah Sutejo Ssc. Jika kabel listrik berlubang maka oleh petugas PLN dijadikan bukti bahwa yang punya rumah telah melakukan pencurian strum listrik PLN. Hingga akhirnya pemilik rumah dan instalasi listrik tersebut harus membayar denda, karena mencuri strum listrik.

Bagaimana bisa petugas PLN itu tahu kalau kabel listrik diatas meteran itu berlubang? Siapa yang memberi tahu PLN? Siapa yang melapor kepada PLN? Sedangkan pemilik rumah, Sutejo Ssc tidak tahu kalau kabel listriknya berlubang dan sama sekali tidak merasa melakukan sesuatu terhadap kabel listrik yang berada di rumahnya. Dari mana pelapor mengetahui kalau kebel listrik di rumah milik Sutejo Ssc ini berlubang? Dalam hal ini, apa motif orang yang telah melaporkan? Apakah ini sebuah konspirasi?

Apa kata Sutejo Ssc?

Menuntut Keadilan

  1. Saya diduga sepihak melakukan “sesuatu” thd listrik di rumah kami. Padahal, listrik kami sudah 1300 VA. Rumah tanpa AC, lho. Hehehe. Tiba tiba ada lubang di kabel di atas meteran. Hehehe. Gila
  2. Lihat, bagaimana konsumen diperlakukan “tidak adil”

Sutejo SSc

Sungguh tidak adil
Padahal, saya itu takut listrik dan gak pernah nglubangi kabel. Demi Allah. Untuk apa, 1300 utk keluarga lebih dari cukup. Uniknya, datang-datang, tanya baru punya hajat ya Pak? Keliru besar. Anak anak masih kuliah dan sekolah.

Himbauan kepada pak petugas PLN yang terhormat. Tolong langkah-langkah Anda yang lebih simpatik dan jangan melukai konsumen/ pelanggan. Jauh di sana banyak konsumen/ pelanggan yang berteriak histeris ketika waktu bayar tagihan listrik sudah tiba..

HASIL KLARIFIKASI DENGAN PLN

Selasa, 30 Mei 2017

Sebuah pengalaman berdemokrasi di era digitalisasi –dalam kasus saya—sungguh memberikan banyak pelajaran. Sebuah cermin besar untuk tetap jernih memahami konteks persoalan. Berikut beberapa pokok hasil klarifikasi dengan pihak PLN yang dapat saya sarikan.

Pertama, awalnya permintaan saya untuk bertemu pimpinan “ditolak”, kemudian mengikuti alur yang disarankan. Dalam aduan saya pada custumer servis, keberatan saya selalu ditanggapi untuk memahami keberadaan saya. Saya merasakan digiring untuk mengakui kesalahan. Keadaan ini, tidak bisa kami terima.

Kedua, setelah berhasil bertemu pimpinan baik Pimpinan PLN maupun Pimpinan Rayon diperoleh klarifikasi beberapa hal, baik bersifat aduan maupun klarifikasi sesuai dengan peraturan yang diinformasikan.

Ketiga, pertemuan kami dalam bahasa bapak M Hizlani dipandang sebagai “takdir” dan mengapresiasi positif atas aduan saya yang begitu cepat. Kedua pimpinan, bisa memahami keberatan saya dan siap menindaklanjutinya.

Keempat, terkait dengan pengunggahan masalah di facebook dipahami oleh bapak M Hizlani sebagai hak konsumen untuk mencurahkan perasaan, wajar, dan tidak berkeratan.

Kelima, menurut bapak M Hizlani, keberadaan polisi dalam kegiatan P2TL adalah sesuai amanat UU meskipun setelah ditanyakan oleh salah seorang wartawan tentang senjata yang dibawa, pimpinan tidak memberikan jawaban yang tegas. Khusus, dalam kasus saya, polisi bersikap “netral” dan santun.

Keenam, soal tanda tangan isteri saya yang dipalsukan karena kami keberatan dengan masalah kami, pimpinan minta waktu menginvestigasi, memvalidasi, dan memutuskannya.

Ketujuh, hak-hak dan kewajiban konsumen diinformasikan untuk mendapatkan gambaran utuh kepada masyarakat sesuai dengan permintaan saya.

Kedelapan, terkait dengan permintaan maaf PLN kepada saya di media belum direspon secara jelas. Karena, bagi saya, kasus ini termasuk perbuatan yang tak menyenangkan dan mencemarkan nama baik.

Pada proses aduan ini, saya didampingi oleh saksi-saksi dalam kronologi kasus yang telah saya narasikan ataupun surat aduan saya. Kecuali isteri, yang sedang bertugas. Pada saat klarifikasi saya dengan pimpinan dihadiri para kru media massa.

Semoga “ketakdiran pertemuan kami” dalam bahasa bapak Hizlani akan menjadi cermin belajar bersama, sehingga mendorong kehidupan masyarakat yang lebih humanis. Sehingga memberikan rasa keadilan bagi semua.

Kegiatan klarifikasi ini berlangsung pada 30 Mei 2017 di kantor pusat PLN Ponorogo.

Terimakasih disampaikan kepada semua pihak. Salam.

 

Iklan